Matahari Terbenam Indah di Blekok

Apa yang pertama kalian pikirkan ketika mendengar Matahari terbenam? Mimin tebak, pasti ga jauh-jauh kan dari kata sunset. Apa lagi kira-kira? Senja? Keindahan? atau justru kegelapan? Tentu apapun yang kalian pikirkan pasti tidak ada yang salah ya. Kalau mimin sendiri sih, ketika mendengar kata tersebut, yang terbayangkan adalah “Saatnya Kembali”. Mendengar kata tersebut, mimin teringat dengan kawanan burung blekok yang kembali ke sarangnya saat senja mulai menyapa. Mereka berdoyong-doyong kembali ke singgasananya. Beterbangan dari langit menuju pohon mangrove yang tertanam rimbun di sana. Ibaratnya nih, setelah seharian mencari makan dan beterbangan, saat sunset tiba, ia menjadi penanda kawanan burung Blekok untuk kembali pulang ke sarangnya. Berkumpul dengan kawanannya, dan mungkin saja bercengkrama dengan bahasa yang dipahami oleh mereka.

Matahari yang terbenam di Kampung Blekok rasanya punya sekian cerita unik yang mungkin sulit dipahami secara langsung. Yang kita perlukan adalah menggali lebih dalam bagaimana perilaku dari elemen alam yang ada di sana. Coba kita ulas beberapa elemen keasriannya. Mulai dari tanaman mangrove itu sendiri. Tanaman mangrove punya peran yang cukup besar bagi kehidupan di sekitarnya, baik sebagai tempat hidup makhluk hidup yang lain sampai perannya yang dapat menyerap karbon. Keberlangsungan fungsi ini tentu tak akan terjadi tanpa adanya elemen lain yang mendukung tercapainya fungsi tersebut, baik dari dukungan sinar matahari yang berperan untuk bagian daunnya, air sebagai tempat berpijaknya, dan unsur-unsur hara yang didapatkan lewat akarnya. Dari sini, kita bisa belajar tentang kerjasama dan saling melengkapi antar elemen satu dengan yang lainnya. Ekosistem yang tercipta di sana pun demikian, pasti di antara makhluk-makhluk yang ada saling berkoordinasi menciptakan sebuah rantai kehidupan yang dinamis koordinatif.

Matahari yang terbenam di sana, rasanya memberi kita satu pelajaran penting untuk selalu bersyukur bahwa alam masih mau berbuat baik untuk kita, para manusia. Adanya hal yang manusia anggap negatif pun seperti bencana pasti tak luput dari kemampuannya untuk selalu beradaptasi agar kehidupan alam berlangsung tetap seimbang. Karena itulah, jika alam merasa ada hal asing pada mereka, dia akan melawan keasingan tersebut agar seimbang kembali.

Ngomong-ngomong soal “Saatnya kembali”. Dimulai dari kita, yuk saatnya kembalikan alam pada keasriannya. Salah satunya dengan menjaga kelestarian alam dan tidak merusak apa-apa yang sudah ada. Tingkatkan potensi yang dimilikinya dan terus lindungi mereka.

Cukup segini dulu ulasannya. Semoga harimu menyenangkan. Ingat senja, jangan lupa ingat Kampung Blekok Situbondo juga ^^