4 Fakta Unik Mangrove Ini Wajib Diketahui Wisatawan Kampung Blekok 

Berbicara tentang Kampung Blekok, Tanaman Mangrove tentunya menjadi satu hal yang wajib diketahui oleh wisatawan yang berkunjung ke Kampung Blekok. Tanaman dari marga Rhizaphora ini tumbuh dengan rimbunnya di pesisir pantai Desa Klatakan dimana kawasan Kampung Blekok berada. Keberadaannya sangatlah berpengaruh terhadap eksistensi Kampung Blekok hingga saat ini.

Setelah penulis telisik, ternyata banyak masyarakat yang mengira Tanaman Mangrove hanya bermanfaat untuk mencegah abrasi pantai. Benar sih, namun ternyata tak hanya itu loh, guys. Masih banyak lagi fakta unik dari tanaman ini. Berikut ulasannya. Semoga bermanfaat!

1. Sebagai Habitat Hewan Laut dan Hewan Darat

Seperti yang kita tahu, mangrove hidup di daerah pesisir pantai yang tentunya menjadi tempat pertemuan antara daratan dan lautan. Oleh karena itulah, spesies yang hidup disana menjadi sangat variatif. Segala jenis ikan-ikanan dan udang-udangan banyak yang mencari makan di sekitar kawasan mangrove terutama saat pasang. Beragam jenis gastropoda, kepiting pemakan detrius (hasil penguraian sampah organik), juga kerang-kerangan pemakan plankton hidup di bawah akar-akar mangrove. Sehingga mangrove bisa menjadi biofilter alami dari ancaman pencemaran air loh. Eits, itu tadi masih membahas soal hewan lautnya Guys. Ternyata hewan darat yang tinggal di sana pun tak kalah banyak ragamnya. Hewan liar seperti primata, reptil, unggas air, hingga burung saling berasosiasi membentuk satu ekosistem di sana. Di Kampung Blekok, terdapat ribuan burung air dari 11 jenis yang berbeda. Mereka yang bersarang di hutan mangrove dapat kita saksikan keindahannya dengan mata telanjang. Terkadang, kita juga bisa melihat burung-burung tersebut memangsa ikan-ikan di sana.

2. Memiliki kemampuan Untuk Menyerap Karbon

Menurut Mac Farlane dan Burchet (2001) dalam penelitiannya, Mangrove memiliki toleransi yang tinggi terhadap logam berat, terutama pada bagian akarnya. Sehingga ia dapat berperan sebagai biofilter secara alami bagi air, Namun tak hanya itu Guys, ternyata mangrove juga mampu menyerap kandungan karbon di udara. Fakta menunjukkan bahwa mangrove dapat menyimpan karbon mulai dari 4 – 112 gigaton pertahun. Karena jumlah daunnya yang terbilang banyak juga, walhasil penyerapan karbon oleh tanaman ini pun dapat maksimal pula. Bahkan, terdapat juga penelitian oleh senior CIFOR, Daniel Murdiyarso (Murdiyarso et al., 2015), bahwa kawasan mangrove di Indonesia menyimpan lima kali karbon lebih banyak tiap hektar dibanding hutan tropis dataran tinggi. Wow, keren sekali bukan. Bisa bayangin ngga sih, gimana segarnya udara di kampung Blekok. Apalagi jumlah pohon mangrove yang tumbuh di sana mencapai 12.600 pohon dari luasan 6.7 hektar.

Melihat manfaat ini juga, pelestarian kawasan mangrove di Indonesia rasanya menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan saat ini ya Guys, apalagi melihat ancaman global warming akibat banyaknya carbon footprint saat ini bukan sekedar basa-basi belaka.

3. Indonesia Sumbang 23 Persen Luasan Mangrove untuk Dunia

Menurut Kementerian LHK pada Maret 2017 yang lalu, Indonesia memiliki luasan mangrove terbesar loh di dunia. Bayangkan, Pada tahun 2015, Jumlah luasan mangrove di Indonesia sekitar 3.489.140,68 Ha dari luas 16.530.000 Ha yang ada di dunia. Jika dikalkulasi, Indonesia menyumbang sekitar 23 persennya loh. Wah, sungguh kaya ya. Sayangnya, masih banyak kawasan mangrove yang kurang mendapat perhatian Guys. Cukup banyak juga, mencapai 1.817.999,93 Ha. Karena itu, sangat disayangkan jika dibiarkan rusak begitu saja. Beruntungnya, upaya konservasi Mangrove terus berjalan dan mendapat dukungan langsung dari pemerintah. Salah satunya terdapat di kawasan kampung Blekok tentunya. Namun, bukan berarti kita tinggal duduk manis saja ya Guys. Kita harus tetap berusaha untuk terus menjaga dan tidak merusak ekosistem mangrove yang ada ya.

4. Ekosistem yang Paling Produktif sekaligus Terancam

Seperti yang dijelaskan di atas, Indonesia kaya akan hutan mangrove dan seperempat persen dari populasi dunia. Hal ini berarti kawasan mangrove Indonesia sangat berpengaruh besar terhadap keadaan mangrove di dunia. Dengan berbagai macam potensi mangrove mulai dari keanekaragaman satwa yang tinggal di sana hingga kelebihannya yang dapat menyerap karbon membuat kawasan mangrove sangat produktif dan berdampak baik bagi banyak hal, termasuk bagi keberlangsungan ekonomi masyarakat di sekitarnya, seperti dijadikan pusat ekowisata, pendidikan, penelitian, hingga pusat konservasi. Karena potensi yang besar inilah, tak jarang masih banyak masyarakat yang memanfaatkan potensi mangrove dengan kurang tepat yang dapat mengancam keberadaannya. Seperti halnya pusat budidaya perikanan, pemanfaatan kayu untuk bahan bakar, hingga upaya reklamasi karena kebutuhan lahan yang kurang.

Menurut Daniel Murdiyarso, salah satu penyebab rusaknya mangrove di Indonesia diakibatkan karena maraknya budidaya perikanan. Karena itulah, terjadi hampir 52 ribu ha kawasan mangrove mengalami deforestasi setiap tahunnya. Sehingga emisi karbon yang disimpan oleh tanaman ini pun ikut terlepas kembali ke udara. Sayang sekali kan. Oleh karena itu, upaya menjaga keberadaan mangrove harus digencarkan Guys, agar setidaknya sumber penyimpan karbon di dunia tidak hilang dengan sia-sia. Di Kampung Blekok, menjadi salah satu contoh upaya yang baik dalam menjaga kelestarian mangrove di dunia.

Sumber :

https://nationalgeographic.grid.id

www.mongabay.co.id